Selasa, 27 Desember 2016

Ayo Kenali Dirimu

Ayo Kenali Dirimu

Sebelum kita mampu mengenali dan memahami orang lain, kita harus mengetahui terlebh dahulu diri kita sendiri
Kita harus memahami apa yang ada pada dirinya seperti nilai-nilai, keyakinan, pemikiran,perasaan, motivasi, persangkaan,kekuatan & keterbatasan serta bagaimana pikiran & perilaku tsb berakibat terhadap orang lain à kesadaran diri .Seseorang harus mempunyai kecerdasan intra personal dan kecerdasan interpersonal.
                          
Untuk apa mengenali diri ?
·      Mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini
Ketika kita dapat mengidentifikasi diri sendiri, kenal terhadap diri kita sendiri,  memiliki motivasi maka kita dapat mengetahui tujuan hidup kita
·        Mengetahui kelebihan dan kekurangan pribadi kita
Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan , tidak semua orang dapat mengidentifikasi kelebihannya.
·        Memanfaatkan pengetahuan tentang diri untuk menetapkan tujuan dan meraih cita-cita. Jika kita mengetahui kelebihan dan kekurangan itu maka akan menjadi seseorang yang realistis.
·        Mengetahui mengapa kita gagal dan sukses dalam suatu hal
·        Merencanakan masa depan lebih terarah

Dari lisan Nabi Mulia…….
“ Allah merahmati seseorang yang mengenali kadar kemampuan dirinya”
“ Barang Siapa yang mengenal dirinya, pasti dia akan mengenal Tuhannya”


Komponen Utama Kecerdasan Emosional

Komponen Utama Kecerdasan Emosional

Peter Salovey menempatkan kecerdasan pribadi Gardner sebagai definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya, dan memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama, dimana Goleman (2007) itu sendiri membagi model kecerdasan emosional menjadi dua bagian besar, yaitu personal competence dan social competence.
Personal Competence
Personal competence merupakan kemampuan individu mengatur atau mengelola diri sendiri (Goleman, 2007).
Mengenali emosi diri (self awareness)
Kesadaran diri dalam mengenali emosi atau perasaan sewaktu perasaan itu muncul pada diri individu merupakan dasar dari kecerdasan emosional (kemampuan kunci dalam kecerdasan emosional adalah self awareness).Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan pada perasaan dari waktu ke waktu sehingga dapat menimbulkan wawasan dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan dalam mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri individu berada dalam penguasaan pada perasannya sendiri, sehingga ini membuat individu tidak peka akan perasaannya yang sesungguhnya dan berakibat buruk dalam pengambilan keputusan. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, akan tetapi merupakan salah satu syarat penting dalam mengendalikan emosi, sehingga individu tersebut mudah dalam menguasai emosinya (Goleman, 2007). Individu diminta untuk menentukan kondisi perubahan emosi individu itu sendiri dalam intensitas dan tipe perubahan, tugas lainnya untuk mengukur pemahaman orang lain akan emosi dasar yang secara bersama-sama menciptakan emosi yang tajam, seperti iri atau cemburu (Passer & Smith, 2007).
Mengelola emosi (self control)
Kemampuan dalam mengelola emosi sebagai landasan dalam mengenal diri sendiri atas emosi.Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar perasaan tersebut dapat terungkap dengan tepat, sehingga mampu mencapai keseimbangan dalam diri individu.Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila individu tersebut mampu menghibur dirinya sendiri ketika dalam kondisi terpuruk atau kesedihan, dapat melepaskan kecemasan dalam diri, kemurungan atau ketersinggungan. Begitu sebaliknya, emosi yang tidak berhasil dikelola akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri. Emosi yang berlebihan dan meningkat dengan intensitas yang terlampau lama akan menghancurkan kestabilan diri individu (Goleman, 2007). Sementara itu, menurut Passer dan Smith (2007) mengelola emosi diukur dengan meminta responden menunjukkan bagaimana responden tersebut dapat mengubah emosinya sendiri atau orang lain, serta memfasilitasi keberhasilan atau meningkatkan kerukunan antar pribadi.
Memotivasi diri sendiri (self motivation)
Memotivasi diri merupakan bentuk usaha yang dilakukan indvidu tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. Kemampuan individu dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui berbagai hal, antara lain: cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh pada kemampuan seseorang, kekuatan berpikir positif, dan optimisme. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimiliki individu, maka individu tersebut cenderung akan memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Selain itu juga memiliki keinginan yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain (Goleman, 2007).
Dari pembahasan diatas, menjelaskan definisi personal competence merupakan kemampuan individu mengenali atau memahami emosinya sendiri, mengelola atau mengatur emosinya sendiri, serta bagaimana individu itu mampu memotivasi dirinya sendiri untuk dapat mencapai suatu tujuan hidup.

Filsafat Matematika

Filsafat Matematika

          Wilkins, DR, 2004, menjelaskan bahwa terdapat  beberapa definisi  tentang matematika yang berbeda-beda. Ahli logika Whitehead menyatakan bahwa matematika dalam arti yang paling luas adalah pengembangan semua jenis pengetahuan yang bersifat formal dan  penalarannya bersifat  deduktif. Boole berpendapat bahwa itu matematika adalah ide-ide tentang jumlah dan kuantitas.  Kant mengemukakan bahwa ilmu matematika merupakan contoh yang paling cemerlang tentang bagaimana akal murni berhasil bisa memperoleh kesuksesannya dengan bantuan pengalaman. Von Neumann percaya bahwa sebagian besar inspirasi matematika terbaik berasal dari pengalaman.  Riemann menyatakan bahwa jika dia hanya memiliki teorema, maka ia bisa menemukan bukti cukup mudah. Kaplansky menyatakan bahwa saat yang paling menarik adalah bukan di mana sesuatu terbukti tapi di mana konsep baru ditemukan. Weyl menyatakan bahwa Tuhan ada karena matematika adalah konsisten dan iblis ada karena kita tidak dapat membuktikan matematika konsistensi ini.  Hilbert menyimpulkan bahwa ilmu matematika adalah kesatuan yang konsisten, yaitu sebuah struktur yang tergantung pada vitalitas hubungan antara bagian-bagiannya, dan penemuan dalam matematika dibuat dengan penyederhanaan metode, menghilangnya prosedur lama yang telah kehilangan kegunaannya dan penyatuan kembali unsur-unsurnya untuk menemukan konsep baru.
          Hempel, CG, 2001, menegaskan kembali apa yang telah dikemukakan oleh John Stuart Mill bahwa matematika itu sendiri merupakan ilmu empiris yang berbeda dari cabang lain seperti astronomi, fisika, kimia, dll, terutama dalam dua hal: materi pelajaran adalah lebih umum daripada apapun lainnya dari penelitian ilmiah, dan proposisi yang telah diuji dan dikonfirmasi ke tingkat yang lebih besar dibandingkan beberapa bagian yang paling mapan astronomi atau fisika. Dengan demikian, sejauh mana hukum-hukum matematika telah dibuktikan oleh pengalaman masa lalu umat manusia begitu luar biasa bahwa kita telah dibenarkan olh teorema matematika dalam bentuk kualitatif berbeda dari hipotesis baik dari cabang lain.
          Hempel, CG, 2001, lebih lanjut menyatakan bahwa sekali istilah primitif dan dalil-dalil yang telah ditetapkan, seluruh teori sepenuhnya ditentukan. Dia menyimpulkan bahwa himpunaniap istilah dari teori matematika adalah didefinisikan dalam hal primitif, dan himpunaniap proposisi teori secara logis deducible dari postulat, adalah sepenuhnya tepat.   

          Perlu juga untuk menentukan prinsip-prinsip logika yang digunakan dalam pembuktian proposisi matematika. Ia mengakui bahwa prinsip-prinsip dapat dinyatakan secara eksplisit ke dalam kalimat primitif atau dalil-dalil logika. Dengan menggabungkan analisis dari aspek sistem Peano, Hempel menerima tesis dari logicism bahwa Matematika adalah cabang dari logika karena semua konsep matematika, yaitu aritmatika, aljabar analisis, dan, dapat didefinisikan dalam empat konsep dari logika murni, dan semua teorema matematika dapat disimpulkan dari definisi tersebut melalui prinsip-prinsip logika. Bold, T., 2004, menyatakan bahwa komponen penting dari matematika mencakup konsep angka integer, pecahan, penambahan, perpecahan dan persamaan; di mana penambahan dan pembagian terhubung dengan studi proposisi matematika dan konsep bilangan bulat dan pecahan adalah elemen dari konsep-konsep matematika.

          Bold, T., 2004, lebih lanjut menunjukkan bahwa elemen penting kedua untuk interpretasi konsep matematika adalah kemampuan manusia dari abstrak, yaitu kemampuan pikiran untuk mengetahui sifat abstrak dari dari obyek dan menggunakannya tanpa kehadiran obyek. Karena kenyataan bahwa semua matematika adalah abstrak, ia percaya bahwa salah satu motif dari intuitionists untuk berpikir matematika adalah produk satu-satunya pikiran. Dia menambahkan bahwa elemen penting ketiga adalah konsep infinity, sedangkan konsep tak terbatas didasarkan pada konsep kemungkinan. Dengan demikian, konsep tak terbatas bukan kuantitas, tetapi konsep yang bertumpu pada kemungkinan tak terbatas, yang merupakan karakter dari kemungkinan. Berikutnya ia mengklaim bahwa konsep pecahan hanya berdasarkan abstraksi dan kemungkinan. Menurut dia, isu yang terlibat dengan bilangan rasional dan irasional sama sekali tidak relevan untuk interpretasi konsep pecahan sebagaimana selalu dikhawatirkan oleh Heyting Arend. Sejauh berkenaan dengan konsep-konsep matematika, bilangan rasional sebagai n / p dan bilangan irasional dengan p adalah bilangan bulat, hanya masalah cara berekspresi. Perbedaan antara mereka adalah masalah dalam matematika untuk dijelaskan dengan istilah matematika dan bahasa.

Strategi Pengembangan Diri

Strategi Pengembangan Diri 
3 M
Mulai saat ini
Mulai dari diri
Mulai dari yang kecil

Self-concept development factors


·        Pengalaman interpersonal dan kultural à perasaan positif
·        Penerimaan terhadap kemampuannya oleh individu dan lingkungan
·        Aktualisasi diri
·        Pengaruh pengasuhan orang tua
·        Pengaruh teman
·        Status Sosial dan lingkungan kultural



Self-Perceptions


·        Kebutuhan, nilai-nilai dan kepercayaan
·        Sulit untuk diubah
·        negative self-concept  à distorsi persepsi.
·        positive self concept à aktualisasi diri



Self-Esteem
Seseorang yang memiliki kepercayaan terhadap dirinya untuk menuju pribadi ideal.

Healthy Personality
Seseorang yang dapat menerima dirinya dan orang lain secara baik.

QUALITIES OF A HEALTHY PERSONALITY
·        Bahasa tubuh yang baik
·        Idealita yang tepat
·        Konsep diri yang positif
·        Self-esteem yang tinggi
·        Penampilan sesuai
·        Perasaan yang nyaman

Behaviors Associated with Low Self-Esteem
·        Mengkritik diri sendiri
·        Rasa bersalah dan cemas
·        Rasa penolakan terhadap diri sendiri
·        Hubungan interpersonal yang buruk

·        Mencelakai diri sendiri 

Perkembangan Sosio-emosional Remaja

Perkembangan Sosio-emosional Remaja

Papalia, Olds, dan Feldman (2007) menyatakan bahwa usia remaja berada pada rentang usia antara 11-21 tahun. Pada masa remaja mengalami masa-masa pergolakan emosi yang muncul dari berbagai bentuk seperti hubungan dalam keluarga, lingkungan di tempat tinggal, lingkungan sekolah dan hubungan pertemanan sebaya dan kegiatan dalanm kehidupan sehari-hari (Santrock, 2003).
Menurut Arnett (1999); Roberts, Caspi, & Moffitt (2001) masa remaja yang paling mengalami pergeseran mood dan suasana hati baik positif maupun negatif dibandingkan dengan masa kanak-kanak dan dewasa. Dibandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa, remaja juga jauh lebih mungkin memiliki perasaan sadar diri, malu, canggung, kesepian, gelisah, dan perasaan diabaikan (dalam Lahey, 2012).
Konflik antara orang tua dan anak-anak meningkat selama masa remaja awal sampai masa remaja akhir (Arnett, 1999 dalam Lahey, 2012). Konflik ini biasanya berfokus pada dating, berapa lama remaja harus berada jauh dari rumah, kemana mereka bisa pergi, dan menjadi seperti apa mereka (ini sering mencerminkan adanya perbedaan antara pandangan orang tua dan pandangan remaja  mengenai seks, alkohol, narkoba, kenakalan, dan keamanan) (Lahey, 2012).
Arnett (1999) dan Steinberg (2009) menjelaskan bahwa selama masa remaja terjadi peningkatan yang tajam dalam perilaku remaja, yakni perilaku yang menunjukkan tindakan berbahaya, ada peningkatan yang ditandai dengan minum-minuman keras (mabuk-mabukan), pengunaan obat-obatan terlarang, mengemudi secara sembrono (kecelakaan mobil atau kematian), tidak ada perlindungan dalam hubungan seksual, agresi, kenakalan remaja, dan hal ini di alami individu sampai masa perkembangan dewasa awal (dalam Lahey, 2012).
Selain adanya perubahan pada perkembangan emosi remaja, remaja juga menunjukkan adanya perubahaan nyata dalam hubungan sosial. Masa remaja merupakan masa dimana individu terkadang melepaskan diri dari keluarga atau masa pubertas membawa individu menjauh dari orang tua (Arnett, 1999 & Galambos, 1992). Sementara itu, Diamond, Fagundes, dan Butterworth (2010) menjelaskan masa remaja juga mengalami hubungan pertemanan sebaya, dimana ini meliputi partener intim. Terjadinya pergeseran orientasi dari orang tua ke hubungan pertemanan sebaya dapat dilihat adanya penilaian dari kelompok persebayaan yang terjadi pada awal pubertas (sekitar usia 11 tahun sampai 13 tahun), akan tetapi hubungan ini akan menurun pada rentan usia 15 tahun. Selain itu, menurut Santrock (1998) remaja muda menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua nya (dalam Lahey, 2012).


Selasa, 20 Desember 2016

Ternyata Kegagalan itu Baik loh, Kawan!!!

Ternyata Kegagalan itu Baik loh, Kawan!!!

Example story:
“Saya telah belajar tentang kegagalan relatif. Nomor tiga dalam Kejuaraan Dunia tahun 1994 itu buruk sekali dalam pandangan saya. Namun hikmahnya, saya menyadari bahwa saya tidak dapat selalu menang. Saya harus bisa menerima kekalahan. Beberapa tahun setelahnya, pencapaian peringkat empat di Olimpiade Sidney lebih menjadi pengalaman hidupdan bukan kekalahan yang menyakitkan. Saya langsung merasakan kebutuhan untuk membuktikan bahwa saya adalah pendayung yang baik sehingga saya harus tetap mendayung. Di sisi lain saya juga perlu membuktikan bahwa meski saya bagus dalam mendayung, ada hal-hal lain yang saya juga bisa bagus. Jadi saya bergabung dengan tim layar yang ambil bagian dalam America’s Cup selama setahun.”
Dari contoh cerita di atas dapat kita tarik kesimpulannya, bahwasannya keberhasilan seseorang berawal dari dorongan untuk bangkit dari kegegalan yang dialami sebelumnya. Kuncinya yaitu respons positif seseorang dalam menghadapi kegagalan dan kemampuan untuk menyerap sakit hati dan kemonotonan (tapi mungkin dia tidak sakit hati dan merasa monoton?) dalam latihan tanpa hentinya untuk berhasil.
Contohnya saja seorang anak yang belajar berjalan atau mengendarai sepeda. Atau pikirkan suatu saat dimasa lalu ketika kita sendiri bertekad mencapai sesuatu yang penting bagi kita. Semuanya memerlukan suatu tingkat kegigihan tertentu untuk sukses. Ada dua alasan utama mengapa kita dapat sukses:
1.        Hasrat kita untuk sukses mengalahkan pandangan negatif kita terhadap tingkat kemampuan kita sendiri.
2.       Penjelasan kita mengenai alasan-alasan kemunduran dan kegagalan kita membuat kita dapat mengidentifikasi berbagai faktor yang akan mengubah kegagalan menjadi kebehasilan.
Mungkin koruptor terbesar dalam kesuksesan adalah anggapan bahwa semua kesuksesan dan kegagalan kita berasal dari gen yang kita warisi. Sebenarnya, jika kita anggap demikian, maka kita setuju. Ini adalah pernyataan yang akan terpenuhi dengan sendirinya.

Jika anda ingin mengukir prestasi dalam bidang apapu, maka kita akan memenuhi kekecewaan dan kegagalan dalam prosesnya. Kadang-kadang kita akan berhasil pada awalnya tetapi kemudian terjadi kemunduran. Kadang-kadang erjadi sebaliknya. Cara kita merasionlaisasi kegagalan atau kesuksesan dalam benak kita yang menentukan tindakan kita dalam menanggapi kegagalan atau kesuksesan itu.

Sifat Dasar Filsafat

Sifat Dasar Filsafat

Berfilsafat artinya berpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal. Dan karena berpikir radikal ia tidak pernah terpaku hanya kepada satu fenomena tertentu. Ia tidak akan berhenti pada satu jawaban tertentu. Dengan berpikir radikal, filsafat berupaya untuk menemukan jawaban dari akar permasalahan yang ada. Filsafat berupaya mencari hakikat yang sesungguhnya dari segala sesuatu.
Berpikir radikal bukan berarti hendak mengubah, membuang,
atau menjungkirbalikkan segala sesuatu, melainkan dalam arti berupaya berpikir
secara mendalam, untuk mencari akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir
radikal justru berupaya memperjelas realitas, melalui penemuan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri.
Filsafat bukan hanya mengacu kepada bagian tertentu dari realitas, akan tetapi berupaya mencari keseluruhan. Dalam memandang keseluruhan realitas, filsafat senantiasa berusaha mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Mencari asas berarti berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, realitas tersebut dapat diketahui dengan pasti dan menjadi jelas. Mencari asas adalah salah satu sifat dasar filsafat.
Filsuf pada dasarnya adalah seorang pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya merupakan kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Maka dapat dikatakan bahwa berfilsafat artinya memburu kebenaran tentang segala sesuatu.
Yang namanya kebenaran itu sendiri harus bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, kebenaran harus selalu terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih pasti. Dan begitu untuk seterusnya. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa kebenaran dalam artian filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final, akan tetapi selalu bergerak dari satu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti.
Filsafat muncul salah satunya disebabkan adanya keraguan. Untuk mengatasi keraguan tersebut maka dibutuhkan yang namanya kejelasan. Ada filsuf yang mengatakan bahwa berfilsafat artinya berupaya mendapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai seluruh realitas. Geisler dan Feinberg (1982: 18-19) mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafati adalah adanya usaha keras demi mengapai kejelasan intelektual (intellectual clarity).
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional artinya berpikir secara logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis adalah bukan sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, akan tetapi juga agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan.
Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis. Pemikiran yang sistematis adalah rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Tanpa disertai pemikiran yang logis-sistematis dan koheren, tidak mungkin dicapai kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berpikir kritis artinya menjaga kemauan untuk terus-menerus mengevaluasi argumentasi yang mengklaim dirinya adalah benar. Seseorang yang berpikiran kritis tidak akan mudah meyakini suatu kebenaran begitu saja tanpa benar-benar menguji keabsahan kebenaran tersebut.